Ceramah Ust. Siril Firdaus, M.Ag

JAGALAH HATI!

Oleh : Al-Ustadz Siril Firdaus, M.Ag Telp. (0751) 442387 HP. 081363400735

 

Dalil :

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ [الحديد/ 57 : 16]

Kenapa kita harus menjaga hati?

  1. Karena dia penentu baik buruknya diri kita,lahir/bathin

إن في الجسد مضغة فإن صلحت صلح الجسد كله و إن فسدت فسد الجسد كله و قالوا ما هي يا رسول الله قال و هي القلب (رواه البخاري و مسلم)

–          Kesehatan hati mempengaruhi juga kesehatan tubuh, Rasulullah, di mana 63 tahun umur beliau, hanya pernah dua kali sakit

  1. Karena hanya hati yang sehat yang bisa kita bawa menghadap Allah di akhirat nanti

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89) (الشعراء /26(

Sayyid Abdul Aziz al-Diraini dalam kitabnya, Thaharah al-Qulub wa al-Khudhu’ li al-‘Allam al-Ghuyub, mengatakan, “Hati manusia itu diserupakan dengan bejana :

–          Hati orang kafir bagaikan gelas terbalik, padanya tidak bisa masuk sedikitpun kebaikan

–          Hati orang munafiq bagaikan gelas pecah, jika disampaikan kebaikan dari bagian atas, maka akan keluar dari bagian bawah,

–          Hati orang beriman bagaikan gelas yang baik lagi tegak, ia dapat menerima kebaikan.

Hati orang berimanpun dapat pula dibagi menjadi:

–          Hati yang bersih dari kelalaian dan ketergelinciran pada dosa,

–          Hati yang dihinggapi kotoran, tapi tidak begitu banyak, masih bisa dibersihkan dengan kebaikan yang disampaikan kepadanya,

–          Hati yang sudah banyak dihinggapi kotoran, sehingga mengalahkan kebaikan yang disampaikan kepadanya.

Imam al-Ghazali mengklasifikasi hati orang beriman kepada 4 kategori, yaitu:

  1. Orang yang hatinya selalu ingat Allah, ia mengambil dunia sekedar kebutuhan mendesak, kalau lebih dibagikannya kepada orang-orang fakir-miskin,
  2. Orang yang hatinya punya perhatian kepada urusan dunia dan agama, tapi ia lebih sibuk kepada urusan agama,
  3. Orang yang hatinya punya perhatian kepada urusan dunia dan agama, tapi ia lebih sibuk kepada urusan dunia,
  4. Orang yang hatinya tenggelam dengan kesenangan dunia, sehingga tiada ruang untuk mengingat Allah kecuali hanya celotehan dari mulut saja.

Supaya hati terjaga, lakukanlah petunjuk berikut ini!

  1. Senantiasa zikir kepada Allah SWT, QS. Al-Ra’d/13 : 28

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ [الرعد/13: 28]

  1. Membaca al-Qur’an, QS. Yunus/10 : 57

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

  1. Memakmurkan masjid, QS. Al-Taubah/9 : 18

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

  1. Bergaul dengan orang-orang shaleh. QS. Al-Kahfi/18 : 28

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

MUHASABAH

Oleh : Al-Ustadz Siril Firdaus, M.Ag Telp. (0751) 442387 HP. 081363400735

Marilah, kita awali muhasabah ini dengan mohon ampun kepada Allah atas segala dosa, kesalahan, kekeliruan, dan kelalaian kita selama ini, melalui sama-sama membaca istighfar! Astaghfirullahal ‘azhim 3 x.

Kita tidak tahu pasti ini, Malaikat Maut sudah sedekat apa dengan kita sekarang, mungkin masih ada di antara kita yang umurnya masih tinggal hitungan puluhan tahun lagi, tapi mana tahu ada yang tinggal hitungan tahunan lagi, bahkan tidak mustahil kalau ada yang tinggal hitungan bulanan atau harian lagi. Namun yang pasti, setiap kali kaki kita langkahkan, hakekatnya sudah selangkah lagi kita semakin dekat kepada kuburan kita masing-masing. Bisa jadi, ketika kita masih di rumah juga, atau sudah dalam perjalanan, di atas kendaraan, di tempat kerja, di pasar raya, dan sebagainya, kiranya Malaikat Maut sudah berada di hadapan kita. Untuk apa? Ya, sesuai dengan tugasnya, siap untuk mencabut nyawa kita yang satu-satunya ini.

Alangkah bahagianya kalau ketika saat itu datang, kita benar-benar berada dalam kondisi sudah sangat siap. Kita sudah merasakan lezatnya iman, nikmatnya ibadah, lidah sedang basah dengan banyaknya dzikir, sedangkan hati kita sedang rindu untuk segera berjumpa dengan Allah. Alangkah berungtungnya kalau ketika itu kita sudah berhasil mempersembahkan yang terbaik untuk dunia dan akhirat kita.

Hati-hatilah, bukan tidak ada, malah sudah sangat banyak kejadian orang-orang yang mati dalam keadaan bergelimang dosa. Mati ketika berkelahi, berjudi, mencuri, mabuk, berzina, dikutuk orang tua. Janganlah kita ikut pula mengerjakan semua itu, mana tahu ketika itu pula ajal kita datang. Janganlah ditambah lagi jumlah mereka dari kita! Sungguh tidak ada kemalangan yang lebih malang, kecuali kalau kita mati dalam keadaan su’ul khatimah.

Bayangkanlah ketika saatnya benar-benar sudah datang, dipaksa atau perlahan nyawa kita akan keluar dari tubuh, serta merta badan akan kaku dan dingin, mata tidak akan bisa lagi melihat, telinga tidak akan bisa lagi mendengar, mulut tidak akan bisa lagi bicara, tangan tidak akan bisa lagi bekerja, kaki tidak akan bisa lagi melangkah, akal tidak akan bisa lagi berfikir, hati tidak akan bisa lagi merasa, dan sebagainya, sekalipun secara fisik semuanya masih utuh, tapi karena yang menjadi motor penggeraknya sudah pergi, maka semuanya tidak berfungsi lagi, dan sebentar lagi jasad kita akan segera diselenggarakan.

Ketika itu, apa yang masih bisa kita harapkan, kalau bukan pertolongan dari Allah melalui amal ibadah kita sendiri. Lihatlah, sekaya apapun orang meninggal tidak ada yang bisa ia bawa menghadap Allah, nasibnya sama dengan orang yang paling miskin sekalipun, hanya sekedar 3 atau 5 lapis kain kafan juga yang bisa dibawa, bahkan kain kafan itupun tidak pula dibeli dari uangnya sendiri, padahal bisa jadi uangnya masih sangat banyak di bank dan di rumah, begitulah nasib manusia bila sudah meninggal.

Perhatikanlah, sesayang apapun keluarga kepada kita, tidak seorang-pun dari mereka yang masih mau kita tinggal lama di atas rumah kita sendiri, malah ada yang jam 9 pagi baru meninggal, Zhuhurnya sudah mereka hantarkan ke kuburan, kalau kita sudah mereka masukkan ke kubur, tidak seorangpun dari mereka yang masih mau bersama kita, walaupun mereka menangis dengan kepergian kita, tapi itu hanya sebentar, menjelang beberapa hari, setelah itu malah mereka ada yang sudah melupakan kita.

Oleh karena itu, masih maukah kita melalaikan amal ibadah sebagai bekal kehidupan yang pasti di kampung akhirat hanya karena cinta kepada kerja, harta, dan keluarga, padahal semuanya kalau kita sudah meninggal, tidak satupun yang masih mau bersama kita.

Janganlah kita tertipu oleh segala atribut dunia ini, kalaupun kita memilikinya, upayakalah agar semuanya bernilai ibadah untuk kita yang semakin mendekatkan kita kepada ridha dan syorga Allah SWT. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

“Semoga kita dapat menutup usia dengan memperoleh prediket Husnul Khatimah dan di akhirat nanti tinggal di syorga bersama Rasulullah, para sahabat, para syuhada’, dan para shalihin!” Amin ya Rabbal ‘Alamin!!!

 

SEDIH YANG MENDATANGKAN KEBERUNTUNGAN

Oleh : Ustadz Siril Firdaus, M.Ag Telp. (0751) 442387, HP 081363400735

 

فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (التوبة / 9 : 182)

Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu  mereka kerjakan. (QS. Al-Taubah/9 : 182)

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِين (آل عمران/3 : 139)

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang  yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran/3 : 139)

Banyak di antara kita yang lebih bersedih pada urusan-urusan sepele seputar duniawi; bersedih karena sedikitnya harta, bersedih karena belum mendapatkan jodoh, bersedih karena belum memiliki anak, bahkan ada yang bersedih karena tim sepak bolanya kalah. Padahal dunia ini tempat persinggahan sementara.

Setiap orang sudah pasti akan mati, menemui Tuhannya, masuk surga atau neraka. Jangan pernah berpikir bahwa kematian kita akan datang pada usia 70 atau 80 tahun, misalnya. Tetapi berpikirlah bagaimana kita mengisi waktu dengan kebaikan.

Para ulama adalah orang yang hidup sederhana. Jika mendapatkan harta sekian, mereka mensyukurinya dan merasa cukup (qana’ah) dengannya. Sebut saja misalnya

–          Buya Hamka pernah dipenjara karena berseberangan dengan pemerintah yang sedang berkuasa, tapi selama di penjaralah beliau berhasil menamatkan Tafsir Al-Azhar.

–          Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ibnu Taimiyah, Rabi’ah al-Adawiyah, dan Sayyid Quthb. Mereka hidup melajang hingga wafatnya, tapi mereka tidak bersedih karena belum menikah.

–          Imam Bukhari hingga wafatnya belum memiliki anak satu pun, tapi tak pernah sekalipun dalam hidupnya dia meratap karena tidak dikaruniai anak.

Kebahagiaan seseorang itu tidak diukur dari materi duniawi, melainkan dari kebenaran yang sedang ditegakkannya dan kedekatannya pada Allah SWT. Bersedih karena urusan-urusan duniawi tidaklah menenteramkan hati dan tidaklah menambah kebaikan apa pun kepada kita. Sebaliknya, kesedihan hanya menambah gejolak dalam jiwa kita.

Dikisahkan bahwa seorang laki-laki pernah mendatangi salah seorang tabi’in yang sedang menangis, maka orang itu menaruh belas kasihan kepadanya. Ia lalu bertanya, ”Apa yang menyebabkanmu menangis? Apakah ada rasa sakit yang kau alami?” Tabi’in itu menjawab, ”Lebih dahsyat dari itu.” Orang tadi bertanya lagi, ”Apakah kamu mendapat berita bahwa salah seorang anggota keluargamu meninggal dunia?” Tabi’in itu menjawab, ”Lebih dahsyat dari itu.” Orang itu bertanya lagi, ”Apakah kamu kehilangan hartamu?” Tabi’in itu menjawab, ”Lebih dahsyat dari itu.” Laki-laki itu pun berkata sambil terheran-heran, ”Lalu, apakah yang lebih dahsyat dari semua itu?” Tabi’in itu menjawab, ”Kemarin, karena tertidur, saya lupa bangun malam.”

Semestinya yang kita sedihkan adalah shalat yang tidak khusyuk, tidak mengisi waktu luang dengan amal shalih, tidak qiyamul lail, atau tidak bersedekah. Atau, melalaikan segala amal shalih lainnya padahal seharusnya kita sempat mengerjakannya.

Kita bersedih mestinya karena bekal untuk akhirat belum terisi penuh, padahal kita tak pernah tahu sampai batas mana usia kita. Lalu kesedihan itu akan menggerakkan hati untuk menjadi manusia yang lebih baik.

كل عين باكية يوم القيامة إلا ثلاثة أعين : عين بكت من خشية الله و عين حرمت من محارم الله و عين حرمت في سبيل الله

Di Padang Mahsyar nanti, semua mata akan menangis, kecuali ada 3 mata yang tidak akan menangis ketika semua mata menangis, yaitu:

  1. Mata yang menangis karena takutnya kepada azab Allah.

Ketika mohon ampun dari dosa walaupun hanya kecil dosanya, terbayang olehnya, ya Allah aku sangat takut kepada azab-Mu sekecil apapun. Kalau tidak Engkau ampuni ya Allah, pasti aku akan dimasukan ke dalam api neraka, aku tidak tahan ya Allah, karena jangankan akan dibakar oleh api neraka lagi, tersentuh sedikit oleh api dunia ini saja, saya tidak tahan ya Allah. Lalu keluar air matanya. Mata yang seperti itu tidak akan ikut nanti menangis di Padang Mahsyar ketika semua mata menangis. Tapi mata yang tidak menyesali dan menangisi dosa yang pernah diperbuatnya sekalipun berapa besarnya, di dunia ini ia merdeka, tapi di akhirat nanti ia akan menangis tiada tara.

  1. Mata yang ditahan dari melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah.

Jangankan akan sengaja melihat aurat orang, berbicara dengan lawan jenis saja sudah dibatasinya pandangan matanya. Orang yang seperti itu betul menjaga pandangan matanya, di dunia ini mungkin dinilai orang rugi, tapi di akhirat nanti ia tidak akan ikut menangis ketika semua mata menangis. Tapi mata yang jangankan liar, menonton film pornopun suka, di dunia ini ia merdeka, kalau tidak taubat sebelum mati, maka di akhirat nanti ia akan menangis tiada tara.

  1. Mata yang terbangun kalau untuk jalan Allah.

Ketika untuk shalat, dengar pengajian, atau baca Qur’an sekalipun mengantuk, diperanginya kantuknya, sedangkan untuk kesenangan dunia, misalnya ketika menonton TV atau Drum Band, matanya dibawanya tidur, tidak tertarik kepadanya. Di dunia ini, mata itu mungkin rugi karena kurang tidur, tapi di akhir nanti ia tidak akan ikut menangis ketika semua mata menangis. Tapi mata yang jangankan bangun untuk jalan Allah, shalat, dengar pengajian, atau baca Qur’an saja lebih suka tidur lagi, di dunia ini ia merdeka, tapi di akhirat nanti ia akan menangis tiada tara.

Oleh karena itu, berusahalah meneteskan air mata kita menangis karena cinta kepada Allah dan takut kepada azab-Nya dan hindarilah ia dari hal-hal yang tidak diredhai oleh Allah di dunia ini agar di akhirat nanti kita tidak ikut menangis ketika semua mata menangis. Sebab mata yang menangis nanti adalah mata yang menangis karena menyesali dosa sedangkan kesempatan untuk memperbaiki tidak ada lagi.

Rasulullah juga menginformasikan bahwa di Padang Mahsyar nanti juga ada sekelompok umat Muhammad yang dikejar-kejar oleh api neraka sebesar gunung, lalu mereka mohon syafaat kepada beliau, maka datanglah malaikat menyerahkan segelas kecil air putih, malaikat menyuruh beliau menyiramkan ke api itu, lalu padam. Dengan Nabi kita bertanya, air apa ini Jibril, itulah air mata umatmu yang menangis karena takut dengan azab Allah.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s